Hipnosis Sandhy Sondoro

Talenta musik yang dimiliki tak membuat Sandhy Sondoro mudah diterima industri musik dalam negeri. Namanya justru ‘besar’ di Jerman dan sejumlah negara di Eropa.

Sandhy tak pernah sakit hati, meski sebuah perusahaan rekaman di tanah air pernah meremehkan karyanya, 1,5 tahun silam. “Biarin aja mungkin mereka waktu itu nggak tahu. Mungkin karena belum denger, seperti pepatah bilang, belum kenal maka tak sayang,” katanya.

Dengan sopan, ia ‘membalas’ penolakan itu lewat sederet penghargaan musik bergengsi kelas internasional. Dengan suara serak dan penampilan enerjik, ia tak menyerah hingga sukses menghipnosis para penikmat musik di Java Jazz Festival 2010. Ia membuktikan diri sebagai seorang bintang berkualitas.

Di sela-sela kesibukannya, Sandhy menyempatkan singgah di kantor VIVAnews pada Kamis, 1 April 2010. Berikut petikan wawancaranya.

Merasa disepelekan negeri sendiri?
Ya mungkin setelah album saya ‘Why Don’t We’ rilis di Jerman tahun 2008. Pada akhir tahun sekitar September-November, saya berniat mendistribusikannya di Indonesia. Kan kami musti cari label karena nggak punya modal. Awalnya mereka bilang keren, tapi kok bahasa Inggris, trus mereka juga bilang siapa sih ini. Ya sudah akhirnya kami bikin acara kecil-kecilan sendiri.

Tapi saya tidak sakit hati. Karena saya bukan tipe yang ambisius, semua ngalir aja. Biarin aja mungkin mereka waktu itu nggak tahu. Mungkin karena belum denger, seperti pepatah bilang, belum kenal maka tak sayang.

Saya juga nggak kecewa atau menyerah. Saya punya kawan di Berlin, Amerika, semua profesor musik jazz, meski tak terkenal mereka semua hebat. Ngapain saya nyerah, mereka aja doain saya. Saya juga yakin sendiri karena respons setiap saya main buat konser kecil Spanyol, Itali, reaksinya ada yang sampai nangis. Itu kan bukan reaksi yang main-main.

Mulai dilirik industri musik tanah air?
Setelah saya menang International Contest of Young Pop Singers New Wave 2009 di Latvia. Di situ, saya menang membawa nama Indonesia. Mereka lihat di Youtube, sepertinya mereka bangga banget. Lagu berbahasa Indonesia ‘Malam Biru’ yang saya nyanyikan juga alhamdullilah lalu ‘pecah’ di sini.

Renacananya nanti Juni saya rilis album di Indonesia. Beberapa lagu dari album pertama saya, tapi ada tambahan 2-3 lagu berbahasa Indonesia, total sekitar 15 lagu. Setelah itu saya kembali ke Jerman lagi, mungkin baru balik ke Indonesia tahun depan.

Bagaimana awal karier kamu?
Saya nggak niat jadi seniman, tiba-tiba ngalir aja. Kebetulan waktu itu saya kuliah di Jerman dan harus memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Kebetulan bisa ada gitar dan saya bisa nyanyi, coba ikut audisi band-band lokal, diterima, saya juga ikut band-band di kampus. Kalau di waktu senggang, nggak ada project, saya turun ke jalan, ngamen. Saya ngamen mulai sekitar tahun 1999.

Biasa ngamen di mana?
Lebih sering masuk ke gerbong subway. Kan, ada ruangannya main aja di situ. Lumayan, satu jam bisa dapat sekitar 25 euro atau sekitar Rp 400 ribu. Hasil ngamen bisa buat makan, bayar tempat tinggal, jalan-jalan keliling Eropa , saya juga bisa balik ke Indonesia.

Cuma jadi hasil ngamen?
Nggak juga sih, kebetulan kan saya kuliah arsitektur dan saya bisa gambar.  Saya suka nerima order bikin lukisan atau gambar portrait, saya main di beberapa band, lalu saya pernah nyambi jualan koran, jadi cleaning service, ganti sprei segala macam di hotel di Jerman. Saya juga banyak dipakai untuk mengisi vokal iklan. Kerjaan yang pernah saya jalani banyak. Saya termasuk multitalented hahaha…

Tapi memang 10 tahun terakhir saya hidup dari musik. Ternyata yang terbaik yang bisa saya kerjain ya main musik. Daripada gambar saya lebih jago musik. Saya berpikir, jadi pemain musik itu nggak bisa setengah-setengah.

Kalau lagi ngamen atau main band biasanya nyanyi lagu apa?
Tergantung project. Tapi hampir semua lagu saya jabanin, lagu-lagu soul James Brown, Motown, lalu lagu-lagu jazz band seperti Jamiroquai.

Saya suka main yang kelas-kelas legendaries. Kalau musisi tanah air seperti Benyamin Sueb, Iwan Fals, dan Sawung Jabo. Kalau mancanegera James Brown, Jimi Hendrix, Neil Young, Bob Dillan, Bruce Springsteen, Michael Jackson saya juga suka. Tapi yang paling banyak memberi warna musik saya musisi dari Western.

Saya juga nyanyi lagu saya sendiri. Saya mulai nulis lagu di Jerman, awalnya sekadar buat ngusir rasa sepi, kan saya hidup sendiri.

Dari mana biasanya kamu dapat inspirasi menulis lagu?
Segala sesuatu bisa jadi inspirasi. Tiba-tiba lihat suatu kata yang menarik, itu bisa jadi awalan menulis. Atau bisa juga di televisi saya lihat George Bush yang waktu itu masih jadi presiden bilang. “In the name of peace, I am starting the war.” Kalimat ironik seperti itu juga bisa jadi inspirasi, lalu bagaimana manusia show off. Apapun bisa jadi bahan.

Tapi bukan sekadar aku cinta padamu, aku hanya cinta dirimu, cinta ke mana kamu pergi. Temanya bisa macam-macam ngalir aja. Kalau cinta ya, yang bagus ditulisnya, puitis, tapi nggak perlu seperti Goethe atay Nietzsche. Yang gampang tapi dalem.

Lalu bagaimana ceritanya bisa masuk ke industri musik di Jerman?
Banyak bar di sana, kadang melalui jam session. Dari sini kan jadi bisa kenalan sama banyak musisi. Kebetulan pas main di café tiba-tiba ada agensi yang kasih kartu nama. Saya bergabung dengan satu agensi musik yang kemudian mendorong saya ikut audisi Jerman Idol 2007.

Sebenarnya ikut-ikutan kontes begitu bukan karakter saya, tapi kata agensi saya itu untuk ajang promosi gratis karena tak hanya disiarkan di Jerman tapi juga di Swiss dan Austria. Akhirnya saya setuju, niatnya bukan untuk juara tapi promosi diri.

Kebetulan saya punya angan-angan pengen banget dikasih kesempatan nyanyi di depan satu juta orang. Walaupun saya terakhir peringkat lima, tetapi bagi saya, saya sudah menang karena goal udah tercapai dan menyanyikan lagu sendiri

Setelah itu, ada kontes lagi yang diikuti?
Ada tawaran untuk kompetisi internasional antarnegara live di enam belas negara Stefan Raab’s Casting Show. Di situ ibaratnya seperti di West Europe acara Eurovisions. Penilaiannya dari juri. Di situ saya juara membawa nama Indonesia, bersama denganri Ukraine

Bagaimana melihat industri musik Indonesia?

Kalau dibandingkan dengan Jerman, sebenernya yang lebih banyak bisa nyanyi orang Indonesia. Di Jerman orang main musik karena belajar, kalau di Indonesia kan banyak yang bisa otodidak. Di sini (Indonesia), maaf ya, dilihat kulit kemasannya dulu. Mungkin karena cakep dan blasteran tapi kemampuan musiknya nothing, suksesnya minta ampun.

Ada bakat musik dari keluarga?

Orangtua saya musisi tapi bukan profesional. Ibu punya band di kantornya, kebetulan dia kerja di oil company. Mungkin karena musti ngidupin saya, jadi tak bisa mewujudkan mimpinya main musik. Mungkin yang paling menonjol cuma kakak sepupu saya, Ira Maya Sopha.

Selalu nyanyi dengan gitar?
Suka gitar karena bisa dipeluk,hahaha … Biasa memang nulis lagu dari gitar. Gitar hampir bisa dikatakan sulit dipisahkan dengan saya. Kayanya lebih asyik megang gitar. Saya lebih comfortable dengan gitar, karena sudah menjadi elemen yang menyatu. Tapi satu dua lagu kadang saya lepas  juga.

Waktu kecil saya juga suka pakai raket tenis kakek saya buat dijadiin gitar atau pakai sapu lidi, trus gaya-gaya gitu hahaha …

Ada gitar kesayangan?
Ada si, MJ. Sebenarnya ada beberapa gitar. Tapi karena karakternya lain-lain saya suka semuanya sih.

Bisa bermain alat musik lain?
Saya bass guitar bisa, main keyboard sedikit bisa, main drum juga bisa. Main suling paling bego, hehehe.

Pede nggak kalau nyanyi nggak pake guitar?
Pede aja. Tapi bingung, hehehe

Kemarin di Diane Warren nggak pake guitar dan sepertinya tidak hafal lagu?
Tapi kan pegang Mike, jadi nggak salah tingkah hahaha … Soal nggak hafal lagu itu karena dadakan banget cuma dua hari. Saya mohon maaf karena banyak pikiran, sebenarnya saya  konsentrasi sama proyek saya. Biar bagaimanapun proyek saya adalah yang paling penting.

Saya nyiapin solo project  saya ‘Sandhy Sandoro and Band’, ada lagi sama Glen , kemudian sama Diane Warren. Tapi semua harus jalan kan. Kebetulan yang dengan Diane Warren lagunya dipersiapkan dadakan. Mestinya sih, saya mau taruh di note stand, kebetulan saya telat bilangnya. Di depan udah disiapin akhirnya ditempel di bawah di monitor.

Kolaborasi yang paling membanggakan?
Kalau  sama orang terkenal, sama Diane Warren, dan Glen Fredly. Yang sangat membanggakan dengan dua orang itu. Glen saya bangga karena musiknya memang dari jiwanya. He’s born musician.

Ada keinginan sepanggung dengan artis Indonesia tertentu?
Kalau di Indonesia mungkin pengen main sama mas Iwan fals. Main gitar berdua, atau ngeband mungkin.  Juga sama Sawung Jabo soalnya mereka jagoan.

Kalau dengan musisi dunia?
Stevie wonder, Insya Allah dia masih panjang umur. Kalau untuk musisi cewek susah karakternya. Saya suka cewek yang karakter suaranya berat. Suara saya lebih cocok dengan  yang kulit hitam karakter suaranya. Mungkin lebih kaya Aretha Franklin, Anita Baker.  Saya kalau mau kolaborasi yang jagoan-jagoannya aja deh, yang saya bisa belajar.

Show Sandhy yang paling ‘Wah’?
Di ‘New Wave’ dan ‘Java Jazz’. Saya terimakasih juga dengan Om Peter Gontha sama Ekky Humania dan semua fans Indonesia,  orang-orang  yang mendukung saya di Indonesia. Terimakasih udah dikasih kesempatan, terimakasih udah mendengar musik saya. That’s the biggest shows in my life.

Pernah mendapat tanggapan negatif atau kritik ‘menampar ‘?
Belum pernah sih. Semunya Terkapar, hehehe …

Sempat kaget lihat antusiasme penonton di Java Jazz kemarin?
Kaget juga sih, banyak banget penontonnya, pas liat ke luar. Sampe pengen masuk lagi, hehehe …

Puas dengan  yang sudah didapat saat ini?
Puas, tapi juga  gak puas sih. Puas dalam artian saya bersyukur dikasih sama Allah SWT. I would like to be better and better. Cita-cita saya baik dan lebih baik lagi. Mulai dari karya-karya dan prestasi untuk saya sendiri dan yang support saya juga.

Pernah kaget dengan pencapaian saat ini?
Kaget si enggak. Tapi kalau dipikir gitu, kaget bukan dalam artian menjadi shock. Saya gak pernah merasa establish. Saya jadi yang dulu aja. Sampai kapanpun saya akan tetap menjadi Sandhy yang dulu, yang suka nonton kartun, yang ngaco, yang penting saya berusaha nyanyi dan nulis lagu yang terbaik.

Fansnya kebanyakan cewek atau cowok?
Kebanyakan cewek, tapi kayanya cowok-cowok pada ngiri, hahahah …

Pernah ada penggemar yang berlebihan?
Sampai saat ini di facebook si. Ada kadang-kadang,  tapi ya, diemin aj. Misalnya kirim message ngotot, Aduh mas Sandhy jawab dong.”  Trus nyubit pipi kemarinn tuh, kan senyum-senyum,  tiba-tiba nyubit. Kayanya anak SMA gitu bilang, “Ih kamu lucu.”

Tadi keceplosan sebut “pacar saya”, lalu siapa wanita beruntung yang merebut hari Sandhy ?
Dia adalah pacar saya, hahaha …

Orang mana?
Orang Indonesia, tinggal di Jakarta. Saya suka cewek apa aja. Nggak ada standarisasi. Yang penting baik hatinya. Eh tapi kayaknya bohai deh, hehehe …

Ada rencana ke jenjang pernikahan ?
No comment, hehehe …

Pacarnya pernah cemburu gak sama gitar? Gitarnya kan dipeluk melulu?
Kalau cemburu ya nggak bisa. Saya udah kaya begini, ya musik saya prioritasnya, hehehe.

Makanan favorit Sandhy?
Makanan tradisonal seperti soto betawi. Terus martabak manis yang keju, yang itu lho, tipker, tipis kering. Hehehe …

Hobi selain musik?
Saya suka naik sepeda, tapi di sini agak susah. Di Jerman saya naik sepeda melulu dari dulu. Kalau ada waktu senggang saya suka masak, gambar, sport, kaya main bola, dan bulu tangkis. Waktu kecil malah pernah pengen jadi pemain sepak bola. Macho gitu.

Masa tua apakah mau dihabiskan di Indonesia?
Masa tua sih lebih enak  di Indonesia. Tapi pengen juga bisa jalan-jalan. Punya angan-angan masa tua tinggal di dekat pantai, tapi tinggi rumahnya jangan setara pantai takut tsunami, hehehe …

Kelanjutan pendidikan arsitek di Jerman?
Saya tinggalin setelah empat semester. Trus saya kerja, lalu ambil sekolah swasta, akademi, ambil interior design, setahun kelar. Sebenarnya ingin punya ijazah itu buat orang tua, dan paling engga saya punya pegangan.

Respons keluarga?
Dari dulu emang support ya. Ayah, ibu si saya mau jadi apa aja, support tapi asal serius.

Orang tua tinggal di Indonesia ?
Dulu di Indonesia. Cuma sekarang ibu di States (Amerika Serikat), ayah di sini.

Masih mengikuti berita politik di Indonesia?
Bank Century melulu, males jadinya. Cape. Gak  ada yang menarik. Karena  masih banyak yang lebih penting. Orang kelaparan masih banyak, apalagi anak kecil di lampu merah

Masih jadi warga Negara Indonesia?
Saya warga negara India,hehehe … Saya masih WNI kok, jadi status saya di Jerman masih international artist.

Ada niat mengganti  kewarnegaraan ?
Belum ada

Berarti ada kemungkinan untuk mengganti?
Kita lihat saja nanti, hehehe …

Gambarkan Sandhy dalam satu kalimat
Baik hati, hehehe …  Sebenarnya pemalu, hahaha … Hard worker, saya orangnya tidak bisa diubah, dan dipengaruhi sama orang. Sopan juga si, kata orang, hehehe … sumber : vivanews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s